"Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi esok atau lusa."
"Kau tak boleh menangis demi siapapun mulai detik ini. Kau tak boleh menangis bahkan demi adikmu sekalipun.. Kecuali demi dia.."
"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya."
"Bahwa hidup harus menerima..Penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti..Pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami..Pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan."
"Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah kemana. Dan kamu akan mengerti, akan memahami dan akan menerima."
"Kau memang berhak menyampaikan perasaanmu, tetapi kau lupa dia juga berhak untuk tidak mendengar apa yang akan kau sampaikan."
"Prinsip hidup itu teramat lentur. Prinsip itu akan selalu berubah berdasarkan situasi yang ada didepan kita, disadari atau tidak."
"Kebaikan itu seperti pesawat terbang, jendela-jendela bergetar, layar TV bergoyang, telepon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Bagai garpu tala yang bersonansi. Kebaikan menyebar dengan cepat."
"Ada banyak kebaikan yang justru menikam, menyakitkan pemberinya."
"Kebaikan itu memang tak selalu harus berbentuk sesuatu yang terlihat."
"Pria selalu punya ruang tersembunyi dihatinya. Tak ada yang tahu, bahkan percayakah kau, ruang kecil itu jauh lebih absurd dari seorang wanita terabsurd sekalipun."
"Menyesakkan. Membuka kembali masa lalu itu."
"Pohon Linden, pohon ini indah karena menakajubkan. Pohon ini indah karena bisa menumbuhkan sesuatu. Menimbulkan perasaan-perasaan yang tak pernah kita mengerti. Cinta. pohon ini membuat kita berterus terang dalam kehidupan.."
"Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian disekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta."
"Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu. Tumbuh satu langsung kau pangkas. Bersemai satu langsung kau injak. Menyeruak satu langsung kau cabut tanpa ampun. Kau tak pernah memberikan kesempatan. Dan tunas-tunas perasaanmu tak bisa kau pangkas lagi. Semakin kau tikam, dia tumbuh dua kali lipatnya. Semakin kau injak, helai daun barunya semakin banyak."
"Cinta tak harus memiliki. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Dia memang teramat sempurna. Tabiatnya, kebaikannya, semuanya. Tetapai dia tidak sempurna..Hanya cinta yang sempurna."
source : Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin by Tere Liye

Tidak ada komentar:
Posting Komentar